Rantai Ekonomi Dunia Terganggu Akibat Perang Amerika-Israel dan Iran
03 Mar 2026 07:00 WIB
Jakarta, ABBITV.com – Konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dinilai mulai mengancam stabilitas rantai pasok global serta memicu kekhawatiran terhadap perekonomian dunia. Ketegangan yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah berpotensi mengganggu distribusi energi internasional dan mendorong lonjakan harga minyak dunia.
Dewan Penasihat CILT Indonesia sekaligus Ketua Dewan Pembina ALFI, Yukki Nugrahawan Hanafi, mengatakan operasi militer besar yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran berisiko menimbulkan gangguan serius terhadap sektor logistik dan rantai pasok internasional.
Menurutnya, kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan setelah Iran disebut melakukan blokade di Selat Hormuz, jalur strategis distribusi minyak dan gas dunia dari kawasan Timur Tengah menuju berbagai negara.
“Eskalasi konflik ini langsung memicu kekhawatiran akan gangguan rantai pasok logistik global yang bisa menekan ekonomi banyak negara. Terlebih, retaliasi Iran saat ini melakukan blokade di Selat Hormuz yang merupakan jalur distribusi utama minyak dan gas dari Timur Tengah ke berbagai negara,” ujar Yukki dalam keterangan tertulis, Ahad (1/3/2026).
Dampak konflik mulai terlihat dari kenaikan harga minyak mentah dunia. Harga minyak WTI tercatat menyentuh 67 dolar AS per barel, sementara Brent mencapai 72,8 dolar AS pada Sabtu (28/2/2026).
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital perdagangan energi global. Sedikitnya enam negara eksportir utama minyak dan gas diperkirakan akan terdampak apabila jalur tersebut terganggu, yakni Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, dan Iran.
Di sisi lain, negara-negara pengimpor energi seperti India, China, Jepang, termasuk kawasan Asia Tenggara, juga diprediksi akan merasakan dampak dari terganggunya pasokan energi tersebut.
Yukki menilai konflik berkepanjangan dapat memperparah inflasi global, meningkatkan biaya logistik, serta menahan penurunan suku bunga dunia. Selain itu, ketidakpastian geopolitik juga berpotensi melemahkan kepercayaan pasar dan memperburuk kondisi fiskal sejumlah negara.
“Sepanjang 2025 lalu, ekonomi global sudah penuh tekanan, khususnya akibat guncangan tarif dagang AS. Jika konflik ini berkepanjangan, pelemahan pertumbuhan ekonomi di berbagai negara berpotensi terjadi akibat kenaikan harga energi dan ongkos logistik,” ujarnya.
Bagi Indonesia, dampak langsung yang paling terasa diperkirakan berasal dari kenaikan harga impor minyak. Sebagai negara net importir energi, Indonesia menghadapi risiko meningkatnya subsidi energi dan tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Jika harga minyak dunia melampaui asumsi pemerintah dalam APBN, maka beban fiskal diperkirakan akan semakin besar. Kondisi tersebut juga dapat memicu inflasi domestik dan meningkatkan biaya distribusi barang di dalam negeri.
Selain itu, ketidakpastian global berpotensi memicu arus modal keluar dari pasar domestik. Investor cenderung memindahkan aset ke instrumen yang dianggap aman seperti dolar AS dan emas. Situasi ini dapat menekan nilai tukar rupiah dan meningkatkan biaya impor nasional.
Pengamat ekonomi menilai pemerintah dan Bank Indonesia perlu menyiapkan langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional, termasuk menjaga cadangan devisa, stabilitas nilai tukar, serta memastikan pasokan energi tetap aman di tengah situasi global yang tidak menentu.
Yukki berharap konflik di Timur Tengah tidak berlangsung lama agar stabilitas kawasan dan ekonomi global dapat segera pulih.
“Kedua hal ini perlu menjadi fokus perhatian pemerintah agar segera mengkalkulasi kesiapan menghadapi berbagai skenario lanjutan jika konflik berkepanjangan. Tentunya, kami berharap konflik ini tidak berlangsung lama dan stabilitas kawasan Timur Tengah segera pulih,” katanya.
