Dirjen Pesantren Dibentuk, Wapres Gibran : Ponpes Kekuatan Masa Depan Indonesia
27 Feb 2026 07:00 WIB
Jakarta, ABBITV.com – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menegaskan komitmen pemerintah dalam memperkuat peran pondok pesantren sebagai bagian penting dalam pembangunan nasional. Ia menyebut pesantren memiliki potensi besar sebagai kekuatan sosial dan ekonomi masa depan Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Gibran melalui video berdurasi 3 menit 46 detik yang diunggah di kanal YouTube pribadinya @GibranTV, Sabtu (21/2/2026). Dalam video itu, ia tampak mengenakan kemeja putih lengan panjang dan duduk di sebuah ruangan bernuansa sederhana dengan meja kayu, sementara cuplikan visual menampilkan aktivitas para santri di lingkungan pesantren.
Dalam paparannya, Gibran menyebut terdapat lebih dari 42.000 pondok pesantren di Indonesia dengan jumlah santri mencapai lebih dari 11 juta orang. Ia menilai angka tersebut menunjukkan besarnya potensi pesantren sebagai kekuatan sosial-ekonomi yang tumbuh dari masyarakat.
“Ini adalah kekuatan sosial ekonomi masa depan yang berakar di tengah masyarakat serta tumbuh dari tradisi dan semangat perjuangan,” ujarnya.
Gibran menegaskan bahwa pesantren bukan hanya lembaga pendidikan agama, tetapi juga bagian dari warisan peradaban yang memadukan ilmu pengetahuan dan pembentukan akhlak. Ia juga mencontohkan sejumlah pesantren yang telah mengembangkan unit usaha produktif, termasuk di sektor digital printing yang bahkan telah menjangkau pasar internasional.
Salah satu contoh yang disampaikan adalah produk dari Pondok Pesantren Edi Mancoro di Semarang yang disebut telah digunakan oleh perusahaan di Belanda, sebagai bukti bahwa pesantren mampu bersaing di tingkat global.
Di tengah perkembangan teknologi, Gibran mendorong pesantren untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman, termasuk dalam penguasaan bidang pertanian modern, peternakan, robotik, blockchain, hingga kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, santri harus mampu menjadi pelopor inovasi tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan jati diri bangsa.
Untuk mendukung penguatan tersebut, pemerintah disebut telah membentuk Direktorat Jenderal Pesantren. Gibran menyatakan telah memberikan persetujuan atas pembentukan lembaga tersebut sebagai bagian dari upaya peningkatan tata kelola pendidikan pesantren.
Direktorat ini nantinya akan berfokus pada penguatan layanan pendidikan, pemetaan persoalan di pesantren, serta pencarian solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi, sekaligus mendorong pesantren menjadi pusat inovasi dan penggerak ekonomi lokal.
Secara umum, Gibran menekankan bahwa peran santri saat ini tidak lagi terbatas pada penjaga nilai moral bangsa, tetapi juga sebagai bagian dari generasi yang mampu berkontribusi dalam pembangunan ekonomi dan kemajuan teknologi.
Pengamat pendidikan menilai penguatan peran pesantren dalam kebijakan nasional merupakan langkah strategis mengingat besarnya basis pendidikan berbasis keagamaan di Indonesia. Integrasi antara pendidikan agama dan keterampilan modern dinilai dapat memperkuat daya saing tenaga kerja muda di masa depan.
Namun demikian, sejumlah pengamat juga menekankan pentingnya dukungan infrastruktur, pendanaan, serta peningkatan kualitas pengajar agar transformasi pesantren tidak hanya bersifat simbolik, tetapi benar-benar berdampak pada peningkatan kualitas lulusan.
Di sisi lain, tantangan adaptasi teknologi di lingkungan pesantren juga menjadi perhatian, terutama dalam memastikan kesenjangan digital tidak memperlebar ketimpangan antar lembaga pendidikan.
