Dianggap Menodai Gerakan Demontrasi, Masyarakat Kecam Mahasiswa UI
01 Mar 2026 07:00 WIB
Jakarta, ABBITV.com – Aksi unjuk rasa mahasiswa di depan Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri), Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, pada Jumat (27/2/2026), menuai beragam respons dari masyarakat, termasuk kritik terhadap sikap para demonstran dalam aksi tersebut.
Sejumlah warga yang menyaksikan langsung jalannya aksi menilai sebagian tindakan mahasiswa dinilai kurang mencerminkan sikap sopan santun. Salah seorang warga, Rudi, mengaku kecewa dengan cara penyampaian aspirasi yang dilakukan di lokasi tersebut.
“Polisi itu juga manusia, bahkan mereka muslim dan sedang puasa. Kemana adab dan sopan santun mahasiswa itu?” ujar Rudi seperti dikutip dari realitarakyat.com.
Dalam aksi tersebut, aparat kepolisian yang berjaga diketahui tetap mengenakan atribut seperti peci dan sorban putih sebagai bentuk pendekatan yang lebih humanis selama pengamanan berlangsung di bulan Ramadan.
Bahkan, petugas sempat membagikan takjil kepada para peserta aksi, namun menurut laporan di lapangan, pemberian tersebut tidak diterima oleh sebagian demonstran dan direspons dengan sikap yang dianggap mengejek oleh sejumlah pihak.
Meski demikian, aparat kepolisian tetap menjaga situasi agar tidak terjadi eskalasi dengan tidak terpancing provokasi. Sesuai arahan Kapolda Metro Jaya, Asep Edi Suheri, aparat di lapangan memilih merespons orasi keras dengan lantunan selawat sebagai bentuk pendekatan persuasif dan pengendalian emosi.
Sikap tersebut kemudian mendapat perhatian publik dan menuai apresiasi dari sebagian masyarakat yang menilai kepolisian berhasil menjaga ketertiban tanpa tindakan represif di tengah situasi yang berpotensi memanas.
Sementara itu, pihak mahasiswa dalam aksi tersebut tetap menyuarakan sejumlah tuntutan, di antaranya dugaan kekerasan yang terjadi di Tual, Maluku. Mereka juga menyerukan desakan pencopotan Kapolri dan Kapolda Maluku serta reformasi menyeluruh di tubuh kepolisian.
Aksi ini mencerminkan masih adanya perbedaan tajam antara aspirasi mahasiswa dan respons aparat keamanan, yang dalam beberapa kasus kerap memicu ketegangan di lapangan.
Pengamat sosial menilai bahwa dinamika demonstrasi di ruang publik seharusnya tetap mengedepankan prinsip kebebasan berekspresi yang disertai etika penyampaian pendapat. Di sisi lain, aparat keamanan juga dituntut menjaga pendekatan humanis agar tidak memperkeruh situasi.
Pakar komunikasi politik menambahkan, penggunaan pendekatan non-konfrontatif seperti yang dilakukan aparat dalam aksi tersebut dapat menjadi contoh penanganan demonstrasi yang lebih dialogis. Namun, ia juga menekankan pentingnya ruang komunikasi yang lebih terbuka antara mahasiswa, pemerintah, dan aparat penegak hukum agar tuntutan yang disampaikan dapat ditindaklanjuti secara konstruktif.
